Ruang dan Waktu

Diposkan oleh Author on Jumat, 12 April 2013

Puisi Rumi tentang Ruang dan WaktuNot Intrigued With Evening
By Rumi
What the material world values does not shine the same in the truth of the soul.
You have been interested in your shadow.
Look instead directly at the sun.
What can we know by just watching the time-and-space shapes of each other?
Someone half awake in the night sees imaginary dangers; the morning star rises; the horizon grows defined;
people become friends in a moving caravan.
Night birds may think daybreak a kind of darkness, because that’s all they know.
It’s a fortunate bird who’s not intrigued with evening, who flies in the sun we call Shams.

*Shams = an Arabic term for the word “sun”

Apa yang dikatakan oleh Prof.Whitehead tentang alam, perjalanan alam dalam waktu agaknya merupakan aspek yang paling penting yang secara khusus telah ditekankan olah AlQuran dan yang memberikan pedoman terbaik bagi kita menuju watak terakhir dari hakikat.

Tanggapan seseorang tentang benda adalah superficial dan eksternal; tetapi tentang dirinya sendiri internal, amat akrab dan mendalam sekali. Pengalaman sadar inilah yang dalam keadaan wujud (eksistensi) yang diutamakan, dimana manusia berada dalam hubungan mutlak dengan hakikat. Tidak ada yang statis dalam kehidupan batin, semua dalam keadaan gerak, aliran abadi yang tiada henti dan merupakan tempat istirahat. Ujud (eksistensi) yang sadar ini berarti kehidupan dalam waktu dan pandangan ke dalam yang lebih tajam tentang watak pengalaman sadar itu menunjukkan bahwa diri, dalam kehidupan batinnya bergerak dari pusat di dalam ke luar, apresiatif dan efisien ke lingkungan (masyarakat, diri-diri lain), tetapi tetap sebagai diri sendiri. Eksistensi dalam waktu yang diruangkan adalah eksistensi palsu.

Perubahan dan gerak ini tidaklah terpisah-pisah; unsur-unsurnya saling susup menyusupi dan seluruhnya bersifat non-serial. Nampak, waktu dan diri apresiatif itu adalah suatu 'sekarang' tersendiri, yang oleh diri efisien itu, dalam lalulintasnya dengan dunia ruang, diremukkan menjadi rentetan 'sekarang-sekarang'. Disinilah terdapat jangka waktu sebenar-benarnya yang tiada dipalsukan oleh ruang.

Tetapi tidaklah mungkin untuk menyatakan pengalaman batin dari jangka waktu asli ini ke dalam kata-kata, karena bahasa terbentuk atas waktu beruntun dari diri efisien kita sehari-hari. Dapat kita ilustrasikan disini: Kecepatan gerak gelombang dengan frekuensi 400 billion per detik dan menghitung 200/detik, kita memerlukan 6000 tahun untuk dapat menyelesaikan perhitungan frekuensi gelombang warna 'merah' ini, tetapi 'single momentary act of perception' hanya menangkap 'warna merah' saja. Demikian pula, betapa tindak mental itu merubah runtutan (succession) menjadi jangka waktu (duration). Maka diri apresiatif itu kurang lebih merupakan sifat perobahan diri efisien, ditinjau sintesanya atas 'sini' dan 'kini' oleh diri efisien -perubahan kecil dari ruang dan waktu amat amat diperlukan oleh diri efisien- menjadi keseluruhan yang bertautan dan dari kepribadian manusia.

Maka waktu asli, seperti analisa mendalam dan pengalaman kesadaran batin kita, bukanlah suatu runtutan dari hal-hal yang berdiri sendiri atau dapat dibolak-balikan ke masa lalu atau ke masa depan, tetapi ialah suatu keseluruhan organis dimana yang lampau itu tidak ditinggalkan di belakang tetapi turut bergerak bersama dan bekerja di dalam 'sekarang', dan masa depan dikenakan kepadanya sebagai bukan terletak dihadapannya, yang lagi harus dimasukinya;ia dikenakan padanya hanya dalam artian bahwa ia ada dalam wataknya sebagai suatu kemungkinan terbuka.

Waktu yang dipandang sebagai keseluruhan organis ini oleh AlQuran dinamakan taqdir atau nasib, satu perkataan yang banyak disalahtafsirkan baik di kalangan ummat islam sendiri maupun diluar ummat islam. Nasib adalah waktu dipandang sebagai mendahului, menyingkap kemungkinan-kemungkinannya, ia adalah waktu yang dibebaskan dari jaringan runtutan sebab musabab, sifat diagramatis yang diletakkan atasnya oleh pengertian logika. Dengan satu perkataan ia adalah waktu sebagai diri dan bukan sebagai fikiran dan diperkirakan. Waktu dipandang sebagai nasib membentuk intisari benda-benda.

"Allah telah menciptakan sesuatu menurut masing=masing qadarnya", Nasib bukanlah sesuatu yang tidak berbelas kasih dari majikan yang berkuasa, tetapi ia adalah pencapaian dari dalam suatu benda, kemungkinan-kemungkinan terlaksanakan letaknya ada di dalam lubuk wataknya sendiri yang secara beruntun meligat-ligatkan dirinya sendiri tanpa tekanan luar. Setiap detik dalam kehidupan hakikat itu adalah asli, melahirkan yang baru dan tanpa diduga. Untuk terwujud dalam waktu asli itu tidaklah dapat dibatasi oleh rintangan-rintangan waktu beruntun, berarti tercipta dari saat ke saat secara bebas mutlak serta asli dalam penciptaan itu. Pada hakikatnya kegiatan cipta adalah kegiatan bebas, dan menentang pengulangan (mekanis) yang oleh ilmu pengetahuan berusaha menggambarkan persamaannya dari pengalaman. Kehidupan dengan perasaannya yang mendalam tentang spontanitas merupakan suatu pusat dari ketidaktentuan, karena terletak diluar bidang keharusan. Oleh sebab itulah pengetahuan tidak dapat memahami kehidupan.

Pelajarilah kehidupan itu ke dalam dirinya sendiri, maka konsep mekanis itu akan menjadi sesuatu yang tidak becus. Benda berasal dari gerak, bukan sebaliknya. Karena tidak mungkin, ilmu fisika telah membuktikan tentang hal ini. Apa yang kita sebut benda adalah peristiwa-peristiwa dalam kelanjutan alam yang diruangkan oleh fikiran kita sendiri dengan demikian dianggap saling berpisah bagi tujuan-tujuan gerak itu sendiri. Alam semesta bukanlah benda, tetapi gerak. Watak fikiran menurut Bergson, adalah beruntun (serial) dan tidak dapat memperbincangkan gerak, kecuali melihatnya dari rentetan titik-titik yang diam. Alam fikiran bekerja dengan konsep statis, melihat gerak menjadi benda. Koeksistensi dan kelanjutan barang-barang yang tidak bergerak ini adalah sumber dari apa yang kita namakan 'ruang dan waktu'.

Gerak hidup, sebagai suatu pertumbuhan organis, mengandung suatu sintesa yang maju dari berbagai babak. Tanpa sintesa ini, ia akan berhenti menjadi pertumbuhan organis. Ia ditetapkan oleh tujuan-tujuan, dengan adanya tujuan berarti ia telah disusupi akal, juga kegiatan akal tidak mungkin pula tanpa adanya tujuan-tujuan. Dalam pengalaman yang sadar, kehidupan dan fikiran itu saling susup menyusupi dan merupakan satu kesatuan. Maka fikiran dalam watak aslinya ialah identik dengan kehidupan. Dunia bukanlah panggung sandiwara, karena tidak akan bebas jika tujuan telah ditetapkan lebih dahulu, ini akan menghilangkan kebebasan manusia atau ilahi. Kehidupan adalah jalan raya yang melalui serentetan kematian, jika kita berhenti, kita menjadi sesuatu yang baru, tetapi secara organis bertalian satu sama lainnya.

Tujuan-tujuan adalah kesudahan-kesudahan dari suatu tugas, dan merupakan baru akan datang dan seharusnya tidak direncanakan terlebih dahulu. Proses waktu hanyalah garis dalam gambaran, dan hanya bersifat bertujuan dalam arti selektif menurut sifat, dan merupakan pemenuhan masa sekarang dengan secara giat memelihara dan melengkapi masa lampau. AlQuran memperlihatkan bahwa alam semesta takluk kepada perubahan, yang tumbuh dan bukan hasil yang sudah lengkap. "Dan Dialah yang telah menjadikan malam dan siang berganti-ganti (sebagai tanda) bagi orang yang mau berfikir atau mau berterimakasih".
Penafsiran kritis dari runtutan waktu, pengertian hakikat sebenarnya sebagai jangka waktu yang semata-mata dimana fikiran, kehidupan, dan tujuan saling jalin menjalin guna membentuk satu kesatuan organis. kesatuan dari suatu diri konkrit dan segala-segalanya -sumber mutlak dari segala kehidupan dan fikiran perorangan. Hidup dalam jangka waktu asli ialah berarti hidup sebagai diri, dan menjadi suatu diri adalah berarti sanggup untuk mengatakan 'aku ada'. Hanya yang dapat mengatakan demikianlah yang benar-benar ada. Derajat intuisi dan 'keaku-adaan' itu yang menetapkan tempat dari sesuatu benda dalam derajat mahluk. "aku ada" kita adalah diri dengan diri lain, sedangkan 'Aku ada' diri mutlak sanggup hidup tanpa segala alam ini (Ali Imran: 97) Tidak ada yang menyamainya (QS. Al Ikhlas).

Alam harus dipahami sebagai suatu organisma yang selalu bertumbuh, pertumbuhannya tidak mempunyai batas keluar yang berkesudahan. Batas satu-satunya ialah kedalam, yaitu diri immanen yang menjiwai dan memelihara keseluruhan itu. "Dan sesungguhnya pada Tuhanmulah batas itu" (An Najm: 42). Masa depan adalah sebagai satu kemungkinan tebuka belaka bukan sebagai satu kebenaran. Dan tidaklah mudah memecahkan masalah waktu. "Dan kepunyaanNyalah peredaran malam dan siang" (Al Muminun:80).

Dapatkah perubahan dialaskan pada Dzat Mutlak? Kita sebagai mahluk manusia secara fungsional adalah berhubungan satu sama lain, dengan satu proses dunia yang bebas. Syarat-syarat hidup kita terutama terletak diluar kita. Satu-satunya macam hidup yang kita kenal adalah 'kehendak, usaha, kegagalan atau kemenangan'.

[sumber, disadur dari: Muhammad Iqbal]

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar