Ruang dan Waktu

Diposting oleh Author on Jumat, 12 April 2013

Puisi Rumi tentang Ruang dan WaktuNot Intrigued With Evening
By Rumi
What the material world values does not shine the same in the truth of the soul.
You have been interested in your shadow.
Look instead directly at the sun.
What can we know by just watching the time-and-space shapes of each other?
Someone half awake in the night sees imaginary dangers; the morning star rises; the horizon grows defined;
people become friends in a moving caravan.
Night birds may think daybreak a kind of darkness, because that’s all they know.
It’s a fortunate bird who’s not intrigued with evening, who flies in the sun we call Shams.

*Shams = an Arabic term for the word “sun”

Apa yang dikatakan oleh Prof.Whitehead tentang alam, perjalanan alam dalam waktu agaknya merupakan aspek yang paling penting yang secara khusus telah ditekankan olah AlQuran dan yang memberikan pedoman terbaik bagi kita menuju watak terakhir dari hakikat.

Tanggapan seseorang tentang benda adalah superficial dan eksternal; tetapi tentang dirinya sendiri internal, amat akrab dan mendalam sekali. Pengalaman sadar inilah yang dalam keadaan wujud (eksistensi) yang diutamakan, dimana manusia berada dalam hubungan mutlak dengan hakikat. Tidak ada yang statis dalam kehidupan batin, semua dalam keadaan gerak, aliran abadi yang tiada henti dan merupakan tempat istirahat. Ujud (eksistensi) yang sadar ini berarti kehidupan dalam waktu dan pandangan ke dalam yang lebih tajam tentang watak pengalaman sadar itu menunjukkan bahwa diri, dalam kehidupan batinnya bergerak dari pusat di dalam ke luar, apresiatif dan efisien ke lingkungan (masyarakat, diri-diri lain), tetapi tetap sebagai diri sendiri. Eksistensi dalam waktu yang diruangkan adalah eksistensi palsu.

Perubahan dan gerak ini tidaklah terpisah-pisah; unsur-unsurnya saling susup menyusupi dan seluruhnya bersifat non-serial. Nampak, waktu dan diri apresiatif itu adalah suatu 'sekarang' tersendiri, yang oleh diri efisien itu, dalam lalulintasnya dengan dunia ruang, diremukkan menjadi rentetan 'sekarang-sekarang'. Disinilah terdapat jangka waktu sebenar-benarnya yang tiada dipalsukan oleh ruang.

Tetapi tidaklah mungkin untuk menyatakan pengalaman batin dari jangka waktu asli ini ke dalam kata-kata, karena bahasa terbentuk atas waktu beruntun dari diri efisien kita sehari-hari. Dapat kita ilustrasikan disini: Kecepatan gerak gelombang dengan frekuensi 400 billion per detik dan menghitung 200/detik, kita memerlukan 6000 tahun untuk dapat menyelesaikan perhitungan frekuensi gelombang warna 'merah' ini, tetapi 'single momentary act of perception' hanya menangkap 'warna merah' saja. Demikian pula, betapa tindak mental itu merubah runtutan (succession) menjadi jangka waktu (duration). Maka diri apresiatif itu kurang lebih merupakan sifat perobahan diri efisien, ditinjau sintesanya atas 'sini' dan 'kini' oleh diri efisien -perubahan kecil dari ruang dan waktu amat amat diperlukan oleh diri efisien- menjadi keseluruhan yang bertautan dan dari kepribadian manusia.

Maka waktu asli, seperti analisa mendalam dan pengalaman kesadaran batin kita, bukanlah suatu runtutan dari hal-hal yang berdiri sendiri atau dapat dibolak-balikan ke masa lalu atau ke masa depan, tetapi ialah suatu keseluruhan organis dimana yang lampau itu tidak ditinggalkan di belakang tetapi turut bergerak bersama dan bekerja di dalam 'sekarang', dan masa depan dikenakan kepadanya sebagai bukan terletak dihadapannya, yang lagi harus dimasukinya;ia dikenakan padanya hanya dalam artian bahwa ia ada dalam wataknya sebagai suatu kemungkinan terbuka.

Waktu yang dipandang sebagai keseluruhan organis ini oleh AlQuran dinamakan taqdir atau nasib, satu perkataan yang banyak disalahtafsirkan baik di kalangan ummat islam sendiri maupun diluar ummat islam. Nasib adalah waktu dipandang sebagai mendahului, menyingkap kemungkinan-kemungkinannya, ia adalah waktu yang dibebaskan dari jaringan runtutan sebab musabab, sifat diagramatis yang diletakkan atasnya oleh pengertian logika. Dengan satu perkataan ia adalah waktu sebagai diri dan bukan sebagai fikiran dan diperkirakan. Waktu dipandang sebagai nasib membentuk intisari benda-benda.

"Allah telah menciptakan sesuatu menurut masing=masing qadarnya", Nasib bukanlah sesuatu yang tidak berbelas kasih dari majikan yang berkuasa, tetapi ia adalah pencapaian dari dalam suatu benda, kemungkinan-kemungkinan terlaksanakan letaknya ada di dalam lubuk wataknya sendiri yang secara beruntun meligat-ligatkan dirinya sendiri tanpa tekanan luar. Setiap detik dalam kehidupan hakikat itu adalah asli, melahirkan yang baru dan tanpa diduga. Untuk terwujud dalam waktu asli itu tidaklah dapat dibatasi oleh rintangan-rintangan waktu beruntun, berarti tercipta dari saat ke saat secara bebas mutlak serta asli dalam penciptaan itu. Pada hakikatnya kegiatan cipta adalah kegiatan bebas, dan menentang pengulangan (mekanis) yang oleh ilmu pengetahuan berusaha menggambarkan persamaannya dari pengalaman. Kehidupan dengan perasaannya yang mendalam tentang spontanitas merupakan suatu pusat dari ketidaktentuan, karena terletak diluar bidang keharusan. Oleh sebab itulah pengetahuan tidak dapat memahami kehidupan.

Pelajarilah kehidupan itu ke dalam dirinya sendiri, maka konsep mekanis itu akan menjadi sesuatu yang tidak becus. Benda berasal dari gerak, bukan sebaliknya. Karena tidak mungkin, ilmu fisika telah membuktikan tentang hal ini. Apa yang kita sebut benda adalah peristiwa-peristiwa dalam kelanjutan alam yang diruangkan oleh fikiran kita sendiri dengan demikian dianggap saling berpisah bagi tujuan-tujuan gerak itu sendiri. Alam semesta bukanlah benda, tetapi gerak. Watak fikiran menurut Bergson, adalah beruntun (serial) dan tidak dapat memperbincangkan gerak, kecuali melihatnya dari rentetan titik-titik yang diam. Alam fikiran bekerja dengan konsep statis, melihat gerak menjadi benda. Koeksistensi dan kelanjutan barang-barang yang tidak bergerak ini adalah sumber dari apa yang kita namakan 'ruang dan waktu'.

Gerak hidup, sebagai suatu pertumbuhan organis, mengandung suatu sintesa yang maju dari berbagai babak. Tanpa sintesa ini, ia akan berhenti menjadi pertumbuhan organis. Ia ditetapkan oleh tujuan-tujuan, dengan adanya tujuan berarti ia telah disusupi akal, juga kegiatan akal tidak mungkin pula tanpa adanya tujuan-tujuan. Dalam pengalaman yang sadar, kehidupan dan fikiran itu saling susup menyusupi dan merupakan satu kesatuan. Maka fikiran dalam watak aslinya ialah identik dengan kehidupan. Dunia bukanlah panggung sandiwara, karena tidak akan bebas jika tujuan telah ditetapkan lebih dahulu, ini akan menghilangkan kebebasan manusia atau ilahi. Kehidupan adalah jalan raya yang melalui serentetan kematian, jika kita berhenti, kita menjadi sesuatu yang baru, tetapi secara organis bertalian satu sama lainnya.

Tujuan-tujuan adalah kesudahan-kesudahan dari suatu tugas, dan merupakan baru akan datang dan seharusnya tidak direncanakan terlebih dahulu. Proses waktu hanyalah garis dalam gambaran, dan hanya bersifat bertujuan dalam arti selektif menurut sifat, dan merupakan pemenuhan masa sekarang dengan secara giat memelihara dan melengkapi masa lampau. AlQuran memperlihatkan bahwa alam semesta takluk kepada perubahan, yang tumbuh dan bukan hasil yang sudah lengkap. "Dan Dialah yang telah menjadikan malam dan siang berganti-ganti (sebagai tanda) bagi orang yang mau berfikir atau mau berterimakasih".
Penafsiran kritis dari runtutan waktu, pengertian hakikat sebenarnya sebagai jangka waktu yang semata-mata dimana fikiran, kehidupan, dan tujuan saling jalin menjalin guna membentuk satu kesatuan organis. kesatuan dari suatu diri konkrit dan segala-segalanya -sumber mutlak dari segala kehidupan dan fikiran perorangan. Hidup dalam jangka waktu asli ialah berarti hidup sebagai diri, dan menjadi suatu diri adalah berarti sanggup untuk mengatakan 'aku ada'. Hanya yang dapat mengatakan demikianlah yang benar-benar ada. Derajat intuisi dan 'keaku-adaan' itu yang menetapkan tempat dari sesuatu benda dalam derajat mahluk. "aku ada" kita adalah diri dengan diri lain, sedangkan 'Aku ada' diri mutlak sanggup hidup tanpa segala alam ini (Ali Imran: 97) Tidak ada yang menyamainya (QS. Al Ikhlas).

Alam harus dipahami sebagai suatu organisma yang selalu bertumbuh, pertumbuhannya tidak mempunyai batas keluar yang berkesudahan. Batas satu-satunya ialah kedalam, yaitu diri immanen yang menjiwai dan memelihara keseluruhan itu. "Dan sesungguhnya pada Tuhanmulah batas itu" (An Najm: 42). Masa depan adalah sebagai satu kemungkinan tebuka belaka bukan sebagai satu kebenaran. Dan tidaklah mudah memecahkan masalah waktu. "Dan kepunyaanNyalah peredaran malam dan siang" (Al Muminun:80).

Dapatkah perubahan dialaskan pada Dzat Mutlak? Kita sebagai mahluk manusia secara fungsional adalah berhubungan satu sama lain, dengan satu proses dunia yang bebas. Syarat-syarat hidup kita terutama terletak diluar kita. Satu-satunya macam hidup yang kita kenal adalah 'kehendak, usaha, kegagalan atau kemenangan'.

[sumber, disadur dari: Muhammad Iqbal]

edited: 22 Maret 2023, tambahan wawasan dari channel Bapak Gita Wirjawan, nara sumber: Habib Husein Ja'far Al Hadar
baca terusRuang dan Waktu

Jam Desimal

Diposting oleh Author on Sabtu, 06 April 2013

Jam DesimalPengertian kita tentang waktu telah dikuasai sepenuhnya oleh perjalanan jarum-jarum jam, yang menunjukkan angka 12 ke angka 12. Dan, jika kita melihat angka desimal yang terdiri dari 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan kembali lagi ke angka 0, atau pengulangan angka desimal tersebut, misalnya 10 adalah angka 1 dan angka 0. Lalu, timbul gagasan untuk mempersoalkan, mungkinkah kita dapat merubahnya ke dalam sistem desimal? [Prima: Mei, 1979].

Seperti halnya dalam sistem satuan ukuran dan timbangan, dari sistem tradisional menjadi sistem metrik: inch, foot, mile, yard, gallon, pint, barrel, fathom, acre [bukan 'are'], dan sebagainya, menjadi liter, kilogram, kilometer dan hektar.
Dengan ditemukannya jam digital, digit atau digital yang berarti angka satuan dari 0 hingga 9 [desimal]; jika kita terapkan jam desimal, kita tidak perlu lagi menyebutkan, mis. jam 9 malam, atau jam 9 pagi. Sistem desimal lebih logis dan sistematis bila satu hari kita bagi menjadi 10 jam [tidak 12 jam, seperti yang berlaku sekarang ini], masing-masing pembagiannya 1 jam menjadi 100 menit, dan 1 menit menjadi 100 detik. Sistem ini akan lebih menguntungkan bagi keperluan pengetahuan dan pencatatan kecepatan dalam olahraga. Hanya saja, pada sistem desimal jangka waktu satu detik atau jam, akan jauh lebih lama dengan sistem yang sekarang, Sedangkan detiknya sendiri akan lebih pendek. Karena sehari semalam menjadi 10 jam [24 jam untuk jam konvesional]. Mari kita 'agak' membandingkan kedua sistem tersebut:
Konvesional: 2 x 12 jam, atau 24 x 60' x 60" = 86.400 detik
Desimal: 10 x 100' x 100" = 100.000 detik

Sistem konvensional yang diciptakan oleh Berosus, ahli astronom dan juru ramal [zodiac] Babylonia sejak 3 abad sebelum Masehi, dengan inspirasi 12 zodiak dengan 12 segmen penunjuk matahari. Al Battani mengatakan cara tersebut masih digunakan abad ke 10 M. Boleh jadi ahli-ahli astronomi Arab, ahli ilmu alam Arab, para pencipta instrumen Arab menambahkan 12 jam lagi untuk malam hari [komariah, jalannya peredaran bulan/komar], pada saat itu, abad pertengahan, middle ages, atau mediaeval, Kristen Eropa tertarik dengan sistem ini.

Jam derajat ciptaan John Flamsteed, astronom Inggris:1691, tidak ada sangkut pautnya dengan hitungan siang [matahari] dan malam [bulan], tetapi ditentukan pada dasar perputaran bumi pada sumbernya sendiri [porosnya, rotasi], yang menunjukkan posisi dunia pada garis edarnya dalam mengelilingi matahari, dan sebagai satuan waktu terbesar bukanlah hari yang ditetapkannya melainkan derajat 1/360 bagian dari tahun. Jam ini terlalu konsekwen astronomis dan tidak akan sama dengan perputaran waktu yang kita persepsikan dan sensasikan sehari-hari seperti sekarang ini, awam akan sulit memahaminya karena tidak terbiasa.

Sistem desimal jam dianjurkan oleh Prof. Gregor Mose, dari Institut Teknologi Massachusetts, ide ini dirintis dan dicetuskan setelah Revolusi Perancis. Ia berpendapat dengan sistem ini dapat menentukan "Big Bang" [ledakan besar saat terjadinya alam semesta] dan dapat menentukan saat 'start' untuk permulaan waktu di dunia.

Anda masih bingung dengan gagasan jam desimal? Sekarang, cobalah untuk membayangkan bahwa anda sedang mengadakan perjalanan ke ruang angkasa menembus jauh tata susunan planet kita atau bahkan ke luar tata surya kita; hari, pekan, bulan, tahun akan menjadi kabur tidak seperti pengertian kita di bumi sekarang.

baca terusJam Desimal

Waktu Bukanlah Garis Lurus

Diposting oleh Author on Rabu, 03 April 2013

Keistimewaan Angka 9
Waktu adalah Pedang
[salah satu puisi dari Muhammad Iqbal]

Semoga subur makmur makam Imam Syafi'i
Pohon anggurnya telah menggembirakan dunia!
Citanya memetik bintang dari langit
Disebutnya Waktu sebagai pedang yang membabat sagalanya
Apa hendak kukata, bagaimana rahasia pedang itu?
Cahaya dan kilaunya berasal dari hidup ini

Bagi yang memilikinya bebas dari harap dan khawatir
Tanganmu lebih putih dari tangan Musa
Sekali ketuk air muncrat dari tubir gunung
Dan laut jadi tanah
Musa menghunus pedang Laut Merah terbelah dua
Pedang itu pun memberi kekuatan kepada Sayyidina Ali
Yang menaklukkan benteng Chaibar

Revolusi langit begitu jelas
Perkisaran siang-malam amatlah nyata

Lihatlah! Kau yang dibelenggu masa lalu dan masa depan
Pandanglah alam lain dari kalbumu
Tapi mengapa kau semai bibit kegelapan
Kau bayangkan Waktu hanya seperti garis
Waktu cuma kau ukur dengan siang dan malam semata

Kau jadikan ukuran itu pengikat hati tak beriman
Kaulah pembuat iklan kepalsuan seperti arca-arca
Padahal dulu kau unsur yang hidup
Kini mati kering mengabu
Kini kau budak pemuja dusta

Benarkah kau Islam? Ayo, putuskan rantai belenggu itu!
Jadilah pancaran cahaya cemerlang bagi agama orang merdeka
Sebab kau tak tahu asal-usul Waktu
Tak kau kenal kehidupan yang kekal
Untuk berapa lama lagi kau dipenjara malam dan siang?
Petiklah rahasia Waktu
Maka akan kau dapatkan keajaibannya

Bukan matahari yang melahirkan Waktu
Waktu kekal, sedang matahari sebentar akan musnah
Waktu adalah rahasia sinar bulan dan cahaya matahari
Bentangkan waktu
Bedakan masa lalu dan masa depan
Waktu tak berakhir tak bermula
Dia adalah bunga dari taman ruh kita
Mengenal hakikat akan menyegarkan hidup berjiwa baru
Ujudnya lebih syahdu dari fajar
Hidup bermula dari Waktu
Waktu bermula dari hidup


Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [1997] adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Skala waktu diukur dengan satuan detik, menit, jam, hari [Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu], bulan [Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember], tahun, windu, dekade [dasawarsa], abad, milenium [alaf] dan seterusnya.

Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Sebagai contoh: masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus [linier]. Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang. Berbeda dengan masyarakat Barat, masyarakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang terus berulang tanpa akhir.

Untuk mengukur skala waktu yang berlangsung sangat cepat, di dalam dunia elektronika dan semikonduktor, kebanyakan orang menggunakan satuan mili detik [seperseribu detik], mikro detik [seper satu juta detik], nano detik [nanoseconds], piko detik [picoseconds], dst.

Dalam dunia fisika, dimensi waktu dan dimensi ruang [panjang, luas, dan volume] merupakan besaran pengukuran yang mendasar, selain juga berat masa dari suatu benda [time, length and mass]. Gabungan dari waktu, ruang dan berat masa ini dapat dipakai untuk menceritakan dan menjelaskan misteri alam semesta secara kuantitatif [berdasarkan hasil pengukuran]. Misalnya tenaga [energi] dinyatakan dalam satuan ukuran kg*(meter/detik)kwadrat atau yang sering kita kenal sebagai satuan watt*detik atau joule.


Ruang dan Waktu
Hukum relativitas Einstein tentang waktu akan menjadi lebih jelas "teori relativitas itu dapat meleburkan waktu mejadi waktu-ruang", yang bagi kaum materialistik benda itu menjadi lebih nyata daripada fikiran yang terapung-apung. Menurut Prof.Whitehead karena itu alam bukanlah suatu kenyataan statis [fana] dalam ruang hampa yang non-dinamis, tetapi alam adalah suatu susunan peristiwa-peristiwa yang mempunyai sifat suatu arus yang kreatif yang terus menerus dipecah belah oleh fikiran menjadi sejumlah sesuatu yang tidak bergerak, dan dari hubungan timbal-baliknya muncul menjadi pengertian 'ruang' dan 'waktu'.

Bagi Einstein, ruang adalah nyata [real], tetapi relatif bagi si pengamat [observer]. Dan ditegaskan oleh Prof.Nunn, bingkai ruang-waktu itu tidaklah bergantung pada fikiran si pengamat, hal ini tergantung pada titik dari alam benda kepada siapa bendanya itu melekat. Teori relativitas Einstein nampak menimbulkan kesulitan besar, yaitu 'ke-tidak-nyataan' waktu [unreality of time] menjadi dimensi ke 4, dan menganggap masa depan itu sudah ada, seperti halnya masa lampua. [bila sulit memahami ini lihatlah film-film fiksi ilmiah yang dibuat tentang waktu, mis. Time Tunnel atau Back to the Future]. Inilah yang menunjukkan pengertian kebanyakan manusia tentang waktu yang bersifat linier atau garis lurus, dan terbagi menjadi: past [masa lalu]- present[masa sekarang] - future[masa depan], logiskah hal ini?

Sebagai gerak cipta, waktu tidak bebas lagi, kita hanya meninggalkan dan datang menemui mereka, segala macam peristiwa. Orang awam akan sulit memahami hal ini. Waktu yang dimaksud Einstein bukanlah jangka waktu asli [pure duration] dari Bergson, Henri, seorang filsuf Perancis. "Gerak adalah perubahan sebenarnya, adalah hakikat yang pokok", juga bukan waktu beruntun [serial time], waktu ini adalah inti kausalitas seperti yang dinyatakan oleh Kant. Waktu sebagai dimensi ke-4, dari ruang?, bukanlah waktu lagi [Muhammad Iqbal]. Menurut Oupensky, Russia, dalam bukunya 'Tertium Organum', dimensi ke-4 adalah gerak dari badan dimensi 3 ke suatu jurusan yang tidak terkandung di dalam dirinya sendiri, suatu tanggapan ruang yang samar-samar dan ditetapkan atas dasar tubuh psikis kita, bahwa terhadap sesuatu yang berdimensi satu, dua atau tiga, dimensi yang lebih tinggi mestilah selalu kelihatan sebagai urutan dalam waktu. [Bersambung ke...]

baca terusWaktu Bukanlah Garis Lurus

Kupandang Langit

Diposting oleh Author on Minggu, 31 Maret 2013

Kolong Langit Enterprise
Langit secara tata bahasa adalah sesuatu [ruang] yang berada di atas, menurut pengertian umum 'langit' juga dikenal sebagai kubah langit, biasanya mengacu pada segala sesuatu yang terletak jarak tertentu di atas permukaan bumi, termasuk atmosfir [lapisan udara] dan hingga luar angkasa. Dalam bidang astronomi, langit juga disebut falak. Hal ini merupakan kubah imajiner di mana matahari, bintang, planet, dan bulan terlihat bergerak. Falak terbagi ke dalam wilayah-wilayah yang disebut rasi bintang. Biasanya, istilah langit digunakan dari sudut pandang permukaan bumi, namun makna sesungguhnya dari istilah ini bisa beragam arti. Sebagai contoh, dalam beberapa kasus langit didefinisikan sebagai hanya bagian padat dari atmosfer.

Mengintip Langit
Bagi anda yang suka mengamati langit, kini tidak perlu memiliki teleskop sendiri, ada satu aplikasi yang perlu diinstallkan ke komputer kita. WorldWide Telescope [WWT] adalah software visualisasi Web 2.0 yang berfungsi sebagai teleskop virtual melalui pc di rumah dan di kamar kita sendiri, seperti halnya saat kita menggunakan google maps atau wikimapia untuk melihat peta dunia dari satelit.
Misi dari WWT terbagi menjadi dua:
Mengumpulkan data ilmiah dari teleskop-teleskop, observasi, dan institusi-institusi dunia dan secara temporal mempelajari berbagai hal tentang angkasa luar melalui portal berbasis internet.
Untuk merangsang minat pada sains di kalangan generasi muda, dengan menyediakan bahan ajaran bagi astronomi, temuan ilmiah, dan sains komputasi.
Software ini, jika diintall di windows, seperti halnya produk-produk microsoft lainnya membutuhkan Microsoft Silverlight, kemudian memasang perangkat lunaknya WorldWide Telescope, silahkan baca petunjuk instruksionalnya. Pada halaman unduh software [download] terdapat syarat minimum untuk dapat menggunakannya pada perangkat komputer anda.
Sebelum semua itu, pada laman Tours kita dapat melihat dan merasakan bagaimana suasana angkasa luar.
Ada dua aplikasi yang berbeda untuk dapat menggunakan teleskop virtual ini, melalui software yang kita pasangkan pada komputer kita, atau melalui websitenya sendiri, fitur-fiturnya bisa dilihat di SINI.
Hampir serupa dengan google maps, data yang terlihat bukanlah data aktual, tetapi tetap faktual, karena berdasarkan data-data penelitian ruang angkasa yang ada, dari NASA, dan penelitian angkasa luar lainnya, paling tidak WWT telah menyajikan sesuatu yang dapat memfasilitasi riset berkenaan dengan luar angkasa, dan membantu mempersempit jurang pemisah antara masyarakat umum yang awam dengan masyarakat ilmiah, para ilmuwan dunia. WWT telah maju satu langkah ke arah demokratisasi sains, dan mengubah internet menjadi "Teleskop Dunia", super komputer pada desktop pc anda sendiri.

baca terusKupandang Langit

Fenomena Paranormal [2]

Diposting oleh Author on Sabtu, 30 Maret 2013

Penampakan Hantu dekat Api Unggun Sebelum membaca yang ini sebaiknya kita baca terlebih dahulu Fenomena Paranormal bagian Pertama
Kita kembali pada percakapan al-imam al-Ghazali dengan temannya:
"Kebiasaan yang telah berlaku secara universal adalah bahwa 'orang yang tidak mengetahui sesuatu akan mengingkari sesuatu itu'. Orang itu belum merasakan tegukan hakikat dan tidak mengetahui ilmu laduni. Jadi, bagaimana dia dapat memutuskan hal itu. Saya tidak senang terhadap keputusannya yang hanya berdasarkan taklid atau perkiraan terhadap hal-hal yang dia tidak ketahui."
Sahabat saya berkata, 'saya ingin anda menyebutkan satu sisi dari tingkatan ilmu dan pembenaran ilmu ini. Anda menisbatkannya pada diri anda sendiri dan memutuskan penegasannya."
Saya menjawab, 'Tentang permintaan ini, penjelasannya sangat sulit. Namun, saya akan memulai pendahuluannya berdasarkan tuntutan kondisi, kesesuaian waktu, dan sesuatu yang muncul dari pikiran saya. Saya tidak ingin memperpanjang pembicaraan, sebab sebaik-baik pembicaraan adalah yang singkat tetapi akurat. Saya memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla taufik dan pertolonganNya."

Kemudian, al-imam al-Ghazali menerangkan kepada sahabatnya tersebut tentang definisi ilmu, termasuk didalamnya ilmu laduni [ilmu ghaib, pen.], singkat kata sampailah pada penjelasan tentang hal ini.

Hakikat dan Sebab-sebab Diperolehnya Ilmu Laduni
Ilmu laduni adalah aliran cahaya ilham yang terjadi setelah jiwa mengalami penyempurnaan [taswiyyah], sebagaimana disebutkan dalam firman Allah: "Jiwa serta penyempurnaannya [QS. 91:7]. ini terjadi dengan tiga cara, yaitu:
Pertama, melalui perolehan seluruh ilmu dan pengambilan bagian yang paling sempurna dari sejumlah besar yang ada.
Kedua, melalui riyadhah [latihan] yang benar dan muraqabah yang sahih. Tentang hakikat ini isyaratnya terdapat pada ucapan Rasulullah, "Barangsiapa beramal dengan apa yang diketahui, Allah mewariskan kepadanya apa yang belum dia ketahui." Dalam hadis lain dikatakan, "Barangsiapa yang mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama empat puluh subuh, Allah akan menampakkan dari kalbunya sumber-sumber hikmah melalui lisannya."
Ketiga, melalui tafakur [proses berfikir]. Apabila jiwa itu belajar dan mengolah ilmu, kemudian dia memikirkan data-data ilmunya dengan syarat-syarat berpikir, akan dibukakan baginya pintu kegaiban. Seperti pedagang yang mengolah hartanya, akan dibukakan pintu keuntungan laba. Dan jika dia menempuh jalan yang salah, niscaya dia akan jatuh ke dalam lembah kerugian. Oleh sebab itu, apabila orang berpikir dengan menempuh jalan yang benar, dia termasuk orang-orang yang berakal [dzawi al-albab]. Terbukalah celah dari alam ghaib di dalam kalbunya. Dia menjadi orang berilmu, sempurna, berakal, mendapat ilham, dan peneguh. Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Berpikir sesaat adalah lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun."
Penjelasan, tatacara, dan hakikat tafakur merupakan sesuatu yang samar dan memerlukan banyak penjelasan dan penafsiran yang disertai pertolongan Allah [al-imam al-Ghazali menjelaskannya dalam bab lain, pen.]

Lalu, al-imam al-Ghazali mengakhiri pembicaraan dengan kawannya tersebut dan berkata:
"Kini, saya akan mengakhiri risalah ini, karena pembahasan ini sudah memadai bagi ahlinya:'Barangsiapa yang tiada diberi cahaya oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun [QS. 24:40]

baca terusFenomena Paranormal [2]